saburaiSalah satu usaha peternakan unggulan di provinsi lampung adalah peternakan kambing Saburai dari Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kambing ini adalah hasil silangan antara Boer ( tipe pedaging ) dan etawa ( tipe susu ) sehingga ada juga yang menyebut boerawa. Kelebihan dari kambing ini mengambil keunggulan genetic dari Boer yang memiliki tubuh gempal dan perototan yang padat berisi serta mengambil keunggulan genetic etawa yang memiliki rangka yang tinggi ( panjang ). Keturunan pertama dari hasil perkawinan boer dengan etawa menghasilkan anakan yang berbeda. Jika pejantan boer warna coklat kawin dengan betina etawa warna hitam kombinasi putih maka akan lahir anak yang punya kedekatan seperti boer dan juga ada yang mirip etawa.

Di lereng gunung Batu Kabupaten Tanggamus ada beberapa kelompok ternak kambing Saburai. Dataran tinggi, sumber air melimpah, rumput melimpah dan daerah yang cukup dingin sangat mendukung berkembangnya peternakan kambing saburai. Salah satu kelompok tani yang bergerak di bidang pembibitan kambing saburai adalah Kelompok Tani Pelita Karya III di Pekon Dadapan, Kecamatan Sumber Rejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Kelompok ini memiliki 25 orang anggota yang memiliki 10-15 ekor kambing tiap anggota dengan jumlah populasi 430 ekor. Menurut bapak Sunardi ketua kelompok tani  Pelita Karya III, pengembangan pembibitan kambing saburai di sana sangat potensial dan memberikan hasil tambahan yang sangat berarti bagi perekonomian masyarakat. Dalam usahanya kelompok tani / ternak di seluruh Kabupaten Tanggamus disupport oleh dinas Peternakan Kab. Tanggamus. Ir. Purnomo ( bagian produksi dinas Peternakan Kab. Tanggamus ) mengatakan bahwa bimbingan teknis selalu dilakukan untuk pengembangan usaha ternak, pelatihan pembuatan pakan dan memantau kesehatan ternak termasuk pada saat persiapan pengiriman kambing jarak jauh.

Hasil kambing jantan umur 18 bulan

Hasil kambing jantan umur 18 bulan

Dalam pelaksanaan pola pembibitan, kelompok tani  Pelita Karya III memulai dengan menseleksi bibit dari jawa tengah diantaranya di sentra pembibitan kambing etawa di Kabupaten Purworejo dan Kelompok ternak etawa “ Pegumas “ di Banyumas ( Infovet Juli 2012 ). Perkawinan dilakukan dengan kawin alam dengan pejantan boer, setiap anggota memiliki 1 – 2 ekor pejantan untuk 10 – 15 ekor betina. Cempe ( anak kambing ) akan menjadi dewasa kelamin / pubertas pada umur 8 – 10 bulan dengan berat 20 – 25 kg. Kandang terbuat panggung dari kayu untuk kandang individu, kambing dara siap kawin ditempatkan berdekatan dengan pejantan untuk lebih menandai adanya gejala birahi. Perkawinan dilakukan di halaman kandang dengan dilepas atau betina dipegangi oleh peternak. Kambing betina birahi akan lebih agresif, berisik dan gejala 3A ( abang, abuh, anget ) pada vulva. Recording perkawinan dilakukan secara rapi untuk mengetahui silsilah ( pedigree ) dan menghindari kejadian inbreeding. Kawin alami menghasilkan kebuntingan dengan 1 – 2 kali perkawinan, dengan lama kebuntingan rata – rata 5 bulan 2 minggu. Setiap induk bunting akan melahirkan 2-3 ekor cempe per kelahiran, dengan ratio 60% betina : 40% jantan. Cempe akan disapih pada umur 4 bulan, dengan rataan birahi kembali setelah melahirkan ( estrus post partus ) 2 bulan. Rata rata indukan akan melahirkan 3 kali dalam 2 tahun dengan jumlah anak 6 – 8 ekor cempe.

Pakan ternak masih mengandalkan hijauan ( ramban ) yang ada di lahan rumput sekitar lahan pertanian. Jenis hijauan pakan ternak yang dipakai kaliandra, lamtoro, daun singkong, kolonjono, glirisidae, kembang sepatu, kulit kopi fermentasi, dan daun jagung. Kelompok ternak ini belum mengembangkan tehnologi pakan ( complete feed ) karena menganggap sumber hijauan masih sangat mencukupi untuk usaha pembibitan. Penggunaan copper sudah berjalan dengan baik untuk memperkecil partikel hijauan dan meningkatkan kecernaan pakan.

Perfoma produksi kambing saburai sangat baik dengan berat lahir rata rata 2,5 – 4 kg, pada umur  6 bulan cempe jantan akan mencapai berat 20 kg ( average daily gain 95 gram / hari ).  Pubertas akan tercapai pada umur 8-9 bulan dengan berat 20 kg, bahkan untuk kambing jantan pada umur 3 tahun akan mencapai berat 90 kg. Melihat potensi perfoma kambing saburai yang sangat baik ini sebenarnya dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk swasembada daging 2014. Seleksi dilakukan setelah proses penyapihan, untuk grade I dengan kualitas bibit sangat jarang dijual karena masih dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan breeding. Kalaupun kualitas jantan bibit ini dijual ke sesama anggota atau peternak lain dengan harga Rp. 50.000 / kg, untuk grade 2 – 3 akan dijual jogrok / timbang Rp. 3.6000 – 38.000 / kg dan untuk dara siap kawin dijual dengan harga Rp 1.500.000.  Menurut beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa kadar kolesterol kambing saburai lebih rendah daripada kambing kacang atau kambing etawa. Kelompok ternak di sekitar Gunung Batu juga telah menghasilkan ratusan ekor yang telah dikirim untuk pengembangan ternak di Kalimantan pada 2011. Hasil sampingan berupa  pupuk kandang yang bisa menigkatkan kesuburan lahan pertanian atau dijual dengan harga Rp. 7.000 / karung.

Pembinaan Dinas Peternakan Kab. Tanggamus

Pembinaan Dinas Peternakan Kab. Tanggamus

Kendala utama yang dihadapi oleh kelompok ternak kambing di Kabupaten Tanggamus adalah  pemasaran hasil yang hanya mengandalkan event lebaran haji. Pada hari hari menjelang kelulusan sekolah dan masuknya siswa baru, dimanfaatkan para blantik untuk menekan harga jual kambing. Sampai saat ini belum ada pengusaha yang menampung kambing hasil produksi kelompok ternak untuk tujuan penggemukan, catering atau tujuan aqiqah. Pemasaran menjadi tanggung jawab bersama kelompok ternak, dinas terkait, pemerintah daerah dengan menggandeng pihak swasta / pengusaha untuk meningkatkan pemasaran.

Kendala lainya adalah kasus penyakit ternak yang sering dijumpai seperti keracunan cianida, bloat, sumbatan benda asing pada saluran pencernaan seperti plastic, kain, ataupun benda lainnya. Pada bulan Juli 2012 kemarin, di kelompok ternak kambing Saburai di desa Onoharjo, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah terjadi kematian cempe sebanyak 16 ekor selama 6 hari. Setelah diidentifikasi oleh tim medis veteriner Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional III didapatkan penyebab utama kematian cempe adalah  ektoparasit berupa kutu dengan nama Ctenocephalides canis. Ctenocephalides Sp. sebenarnya kutu yang lazimnya menyerang anjing dan kucing dan ternyata bermigrasi menyerang kambing. Pada kambing dewasa lebih tahan terhadap serangan kutu ini, tetapi pada cempe tidak terlalu kuat karena biasanya disertai gejala anemia dan kekurusan. Penanganan kasus ini dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Tengah dengan penyemprotan desinfektan memberikan pelayanan pengobatan ektoparasit dengan pemberian ivermectin injeksi. [drh. Joko Susilo]